Novel Rahasia Malam By CK
Hallo...perkenalkan saya CK, saya ingin membagi cerita yang saya tulis. Saya beharap kalian suka dengan cerita saya, jika ada kritik maupun saran silahkan tulis di kolom komentar. Terima Kasih.
RAHASIA MALAM
Chapter I : Lupa
ingatan
“Bangun Jasmine! Bangun! Hei, Ayo cepat bangun!
Sebelum permainan dimulai” suara pria yang bass itu menghiasi telinga, disusul
dengan suara bariton pria lainnya “biarkan saja dia tertidur kenapa kau
membangunkannya”. Terkejut, tubuh wanita tersebut mengernyit dengan kaget, ia
membuka matanya, membelalakan matanya ketiga wajah yang ada di atas wajahnya.
Tiga orang yang saat ini sedang duduk mengelilingi tubuhnya, dua orang
laki-laki dan satu wanita, melihatnya terbaring. Itu adalah sahabatku, pikir
Jasmine, ia mencoba duduk dari posisi terbaring nya “kenapa aku
terbaring?kenapa kalian mengelilingi-” belum sempat ucapan nya selesai salah
satu pria yang memakai jaket hoodie yang tadi membangunkannya memotong
ucapannya “akhirnya bangun, sudah tidak perlu risau kami sedang berkunjung dan
kebetulan kau sedang tidur, maka kami bermain permainan werewolf” pria
itu mengakhiri perkataan nya dengan ucapan “waktu sudah malam saatnya semua
orang tidur” sambil mengisyaratkan ke lima orang lainnya untuk membuka telapak
tangan mereka.
Lalu wanita tersebut terdorong oleh telapak tangan
mereka yang kian lama makin mendekat ke wajahnya, membuatnya kembali ke posisi
terbaring, wanita tersebut dengan pasrah memejamkan matanya dan berkata “jadi
apakah aku dokter, manusia serigala, peramal atau penyihir?” “karena kau tidur
aku biarkan kau menjadi penyihir” salah satu wanita bernama Dandelion dengan
rambut hitam nya yang dikuncir ponytail berayun-ayun ria, berbisik di
telinga wanita yang sedang terbaring. Permainan pun berlanjut, ketika suara
kontralto itu berkata “manusia serigala silahkan membuka mata dan kau bisa
membunuh salah satu dari kami”. Tangan besar yang menyentuh pundaknya membuat
wanita tersebut terkejut, dengan penasaran wanita itu berusaha melihat siapa
yang menyentuhnya dengan memicingkan matanya dari sela sela jari.
Perlahan satu telapak tangan mulai terangkat
membiarkan mata sang wanita melihatnya, dengan cepat mata wanita tersebut
menangkap sosok pria, dengan rambut hitam panjang sampai ke telinga, kulit
putih seperti porselen, dibalut dengan kemeja putih dan cardigan serta
jeans hitam, pria tersebut tersenyum membuat lesung pipit nya terlihat, lalu ia
kembali menaruh tangannya di atas mata sang wanita. “oke, hari sudah pagi,
semua nya silahkan buka mata kalian” suara kontralto perempuan itu masih sama,
perlahan semua tangan yang menutupi mata sang wanita mulai terangkat dan ia
kini mulai bangun dan duduk bersila di samping lima orang tersebut, membuat
lingkaran.
Sang wanita mulai memperhatikan sekitarnya dia melihat
dua alas tidur karet busa berada di sebelah pojok kanan nya saling berhadapan,
dengan lemari merah muda kecil di samping alas tidur, ia kembali memandang
jendela besar bertirai coklat di samping alas tidur tersebut. Wanita tersebut
mengalihkan pandangan nya ke sebelah kirinya dimana hanya satu alas tidur dan
lemari pakaian di samping nya dengan meja kecil dan lampu di atasnya dekat
dengan koridor yang terhubung ke aula. Ruangan besar itu tidak memiliki pintu,
hanya tembok yang berlubang untuk akses keluar dan masuk nya. Ia kembali
melihat aula yang sekarang ramai oleh wanita berkaus kuning, dengan nama mereka
di bagian punggung, duduk di alas tempat tidur yang ada di aula tersebut.
Dengan heran wanita tersebut kembali melihat gerak-gerik aneh mereka yang
seolah-oleh ia berada di rumah sakit jiwa, dengan, beberapa wanita yang
mengibas ngibaskan rambut panjang mereka sambil tertawa dan menyeringai satu
sama lain, dan wanita lain yang memiliki rambut pirang melihatnya dengan mata
membelalak sambil tersenyum.
Merinding, wanita tersebut tidak berani melihat
pemandangan itu lagi, ia kembali memandang ke tiga sahabatnya yang kini
melanjutkan pemainan. Suara ceria tadi kini berubah menjadi sedikit parau,
wajah berseri seri nya berubah menjadi sedih, wanita dengan model rambut french
braids tersebut memandang sang wanita
yang duduk di depannya, dan membuka mulutnya “Jasmine, sudah terbunuh
oleh manusia serigala saat malam”. Beberapa detik kemudian suara parau memenuhi
ruangan tersebut “bagaimana kita bisa melanjutkan permainan ini kalau manusia
serigala langsung membunuh penyihir, apa
kau serius?Chris?” ke dua sahabatnya meracau kepada sang pemilik nama dengan
ekspresi wajah kesal, sang pemilik nama yang dipanggil pun mulai menyangkal
perkataan mereka dengan santai “bukankah lebih cepat lebih baik?lagipula aku
ingin menang” sang pria tersebut tersenyum, membuat bibir merah muda nya
sedikit terangkat, dan lesung pipit di kedua pipinya mulai nampak lagi.
Kedua sahabatnya berteriak “bukan seperti itu” wanita
berkepang, kembali melanjutkan perdebatan nya “kau tau, kalau permainan nya
berakhir secepat ini, tidak akan menyenangkan, setidaknya bunuhlah peramal”
dengan mata melirik pria yang kini memasang wajah bingung, sang pria berjaket
hitam bertuliskan Robert di punggung nya, merasa tidak terima, ia melanjutkan
“atau dokter” kini mereka saling melemparkan tatapan benci. “sudahlah, Jasmine
saja tidak mengikuti permainan dari awal bagaimana bisa menyenangkan, ya
kan” chris melirik jasmine yang masih
bingung dengan apa yang terjadi. “hmm, kau benar, lagipula kenapa kalian ada
disini?” kepala wanita yang memiliki nama dengan arti bunga melati memiringkan
kepalanya. “apa kau serius? Karena kupikir kau bercanda apa kau masih ada di
alam mimpi? bagaimana kau bisa lupa” suara gelak tawa menghiasi ruangan,
begitupun dua sahabatnya yang saat ini memandangnya dengan penuh perhatian.
“oh, benarkah?” tatapan tidak percaya terpancar di
mata Jasmine, bagaimana mungkin sahabatnya tahu kalau dia ada disini kalau dia
saja tidak tau kenapa dia bisa ada disini. Dengan percaya diri Dandelion
berkata “benar! Apa kau perlu ku gelitik agar terbangun?” rambutnya mengibas ke
kanan dan ke kiri, wajahnya yang bersemangat kian memerah, memandang kedua
sahabatnya yang lain sudah bersiap untuk menggelitik Jasmine. Saat jasmine
waspada dengan apa yang temannya ingin lakukan, mereka sudah menerjang Jasmine
dengan jari jemari lentik, mereka mulai menggelitik sang wanita yang kini hanya
bisa tertawa dan menggeliat mencari udara.
“Hallo, apa kami boleh masuk” wanita dengan rambut
merahnya yang ikal menjuntai, dengan tiga wanita dengan rambut hitam di
belakangnya, mereka terlihat seperti geng wanita terkenal. Tak peduli,
sahabatnya masih menggelitiknya, sampai Jasmine berkata dengan suara
tersenggal-senggal berusaha mengeluarkan suaranya “ber-berhenti, aku lelah
tertawa, aku butuh oksigen” dengan perlahan dan ragu akhirnya mereka
menghentikan jari jemari mereka, dan menjauhi diri mereka dari Jasmine agar
mereka tidak beraksi untuk menggelitikinya lagi. Masih sedikit
tersenggal-senggal, jasmine memandang grup wanita yang saat ini masih berdiri
di tembok berlubang “kalian boleh masuk, bukankah ini ruangan kita?” keraguan
jasmine membuat suaranya bergetar, entah kenapa dia sangat yakin kalau mereka
juga tidur di ruangan ini, namun ia masih ragu dengan apa yang terjadi, dengan
berat Jasmine berdiri dan beberapa saat kemudian ia merasakan kepalanya sakit,
dan kini ia duduk kembali.
“Kenapa kau tiba-tiba berdiri setelah terbaring dan
tertawa, kau tahu kalau darahmu rendah” menuntunnya untuk duduk kembali. “ada
apa?apa kau butuh sesuatu? Biar ku ambilkan, apa kau ingin minum?” Chris
memberikan cangkir bertuliskan ‘Jasmine’ di laci kecil dekatnya. “hm,
terimakasih”, dengan cepat ia menghabiskan air tersebut dan menaruh cangkir
putih itu di lantai, mengambil nafas dalam-dalam, dan berdiri mendekati wanita
berambut merah yang sedang berlompatan di atas tempat tidur, bersama dengan
tiga wanita sembari tertawa. “permisi,
apa benar kalian sekamar denganku?” keraguan mulai menjalar di otak Jasmine.
“Tentu” masih melompat di tempat tidur, perempuan berambut merah ikal itu masih
tertawa dengan temannya, Jasmine bertanya “lalu, apa kau kenal denganku?” kini
nada tertawa nya berubah menjadi senyuman, dan menghentikan aksi lompatan nya
itu dan menatap Jasmine dengan alis dikerutkan.
“Tentu, siapa yang tidak mengenalmu kau adalah penari
hebat di rumah pelatihan menari ini, dan penari yang dipilih untuk malam ini,
apa kau ingin aku memujimu lebih banyak?” wanita berambut merah tersebut
berjalan keluar dari tembok berlubang, dan mengangkat tangan kanan nya ke atas
membuka telapak nya “kemarilah, kalian boleh masuk” dan sekejap kemudian
rombongan perempuan sebanyak tujuh orang, dengan rambut hitam, masuk ke kamar
Jasmine, mereka sangat berisik, ke tujuh orang itu menyapa Jasmine dengan ceria
dan tawa seolah mereka adalah teman lama. Kembali jasmine bertanya kepada
mereka “apa kalian mengenalku?” mereka tertawa dan seorang perepuan berkacamata
dengan rambut dikuncir dua berkata “tentu kau Jasmine, ada apa?” dan perempuan
lain menyahut “Apa kami mengganggumu? Karena itu?” Jasmine yang masih bingung
dengan apa yang terjadi, kini ia mulai tau siapa teman nya dan siapa yang
bukan, dengan tenang jasmine berkata “bukan maksudku seperti itu, aku hanya
bertanya”. “sudahlah tak usah kau pedulikan, mereka memang seperti itu”
ujar Dandelion menenangkan kedua
sahabatnya Chris dan Robert yang sedang beradu
tatapan dengan wanita berambut merah ikal tersebut. “hahaha, hanya
bertanya? apa kau ingin aku mempercayai omongan mu? Dimana lagi ada seseorang
yang terkenal, lalu bertanya, apa aku terkenal?”
Wanita berambut ikal itu mengikuti gerakan dan mimik
Jasmine dengan wajah dijelek-jelekan. Suara
kontralto Dandelion kini menjadi lebih nyaring “hei! Ros! Tutup mulutmu!
Dengar, sahabatku hanya bertanya, kenapa kau menjadikan hal ini semakin rumit”
jari telunjuk ramping nya mulai mengarahkan ke Ros dan semua wanita yang
menjelek-jelekan sahabatnya. “kau menyuruh kami untuk tidak peduli, sekarang
kau sendiri yang memancing, apakah aku boleh menambahkan?” ujar Robert yang
membuat Dandelion menganggukan kepalanya, namun sayangnya Chris sudah
mendahului Robert “Jika kau cemburu dengan Jasmine, kau harus berlatih lebih
giat, tapi, apa latihan saja cukup? Karena kau tidak bisa mengalahkan orang
rajin dan bertalenta seperti Jasmine, dan terlebih lagi sifat dan penampilan
Jasmine jauh di atasmu” “aw, itu pasti sakit” ucap Dandelion menambahkan, Ros
hanya bisa terdiam mendengar Chris, seolah membenarkan perkataan Chris.
“Sudahlah, sia-sia kita berbicara dengan mereka yang sudah berfikiran jahat
tentang ku” Jasmine berusaha menenangkan sahabatnya yang sudah dipenuhi emosi.
“Benar, lebih baik kita keluar mencari udara segar,
ada tempat yang harus kita kunjungi” Chris mengambil tas hitam nya, diikuti
oleh Dandelion dan Robert. “Apa maksudmu kemana kita akan pergi?” Jasmine
bertanya kepada Chris yang tiba-tiba mengajaknya keluar dari asrama pelatihan.
“kau akan tau” tiga kata tersebut membuat Jasmine memutar otaknya, kemana
mereka akan pergi hanyalah ke rumah Dandelion atau kafe, dengan tergesa-gesa ia
mencari tas coklatnya tapi tidak dapat ia temukan Jasmine mulai berfikir dimana
ia menyimpan tas nya, karena dia tidak pernah mengingat membawa tas atau koper
nya ke asrama ini. “apa yang kaucari? Bukankah semuanya sudah ada di ponselmu?
Biasanya kau tidak membawa apapun kecuali ponsel, apa kau ingin membawa tas?”
Chris yang sudah berdiri di dekat tembok berlubang itu bingung dengan apa yang
sahabatnya lakukan, begitu juga Jasmine bagaimana bisa ia tidak membawa apa-apa
karena setiap dia keluar pasti selalu ada tas selempangnya di pundaknya, apa
kebiasaanya telah berubah, namun semua itu ditepis oleh Jasmine dan berlari
kecil menuju tembok tersebut tanpa membawa apa-apa. Sesudah mereka melewati
tembok berlubang dan aula besar terlihatlah tangga yang langsung menuju ke
lantai satu, tangga tersebut melingkar dengan karpet merah bermotif bunga mawar
dan melati di ujungnya.
Jasmine melihat ke kanan dan kekiri memastikan apakah
tempat ini memiliki ruangan lain, dan benar empat pintu di kiri dan kanan nya
yang terlihat persis seperti pintu yang baru saja ia tutup. Setelah mereka
menuruni anak tangga satu per satu mereka sampai di lantai satu dengan aula
yang sangat besar seperti halnya di sebuah istana,mewah, dan elegan, dengan
lampu gantung besar berwarna keemasan di atapnya, dan lantai kayu mewah, dengan
pilar-pilar di cat putih dan emas, pilar tersebut tinggi dan besar, yang
membuat Jasmine semakin bingung dan ragu, mana mungkin dia bisa ada di tempat
seperti ini sedangkan mengikuti kompetisi saja dapat dihitung dengan jari.
Pintu putih bercorah bunga Melati dan Mawar dengan emas di setiap coraknya,
berkilauan di terangi cahaya mentari. Pintu tersebut perlahan terbuka “hah,
siapa yang memiliki ide untuk membuat pintu sebesar ini, sih? Apa mereka
memikirkan tentang betapa beratnya” ujar Robert dengan berdengus kesal sambil
mengeluarkan segenap tenaganya untuk membuka pintu tersebut. “baiklah, aku
bantu” Chris berusaha untuk menggapai daun pintu yang sudah jauh dari
jangkauannya “terlambat, pintunya sudah terbuka, nanti saja kau yang
menutupnya” Robert kini berjalan di depan meninggalkan Chris, dan Dandelion
mengikuti Robert. “Kau tutup pintunya” ucap Jasmine disela tawanya meninggalkan
Chris di depan pintu tersebut.
Ketiga
orang tersebut kini menunggu di tempat parkir, pepohonan yang tinggi
mengelilingi tempat tersebut mulai dari pohon cemara hingga pohon beringin,
tempat parkir tersebut sudah penuh dimana hanya dapat memakirkan enam mobil dan
sepuluh sepeda motor. Empat mobil di sebelah kanan mereka, mobil abu-abu di
dekat mereka, lalu disebelah mobil tersebut terdapat mobil keluarga berwarna
putih, disebelahnya mobiil Lamborgini hijau, lalu disebelah kiri mereka dua mobil
yang salah satunya mobil Ferrari f430 berwarna merah dan satunya mobil hitam
BMW F30 328i, di sebelah mobil BMW itu sepuluh sepeda motor diparkirkan. “Apa
ada acara khusus? Kenapa tempat parkirnya penuh? Setauku bukankah kebanyakan
tinggal di asrama?” Jasmine melihat sekeliling tempat parkir itu. “hmm, kukira
kau tau, akan ada acara pentas seni pada hari ini dan orang luar juga menonton”
Dandelion menjawab dengan pandangan ke arah gedung asrama tersebut.
“Kemana Chris, kenapa lama sekali” Robert mulai mengeluarkan
smartphone nya, tak lama setelah itu nada dering mulai terdengar, Chris yang
sedang berjalan kearah mereka kini menaruh telephone nya ditelinganya dan
berteriak “aku sudah disini sekarang tutup telephone nya”. Tanpa berfikir lagi
Robert langsung menekan tombol merah dan menaruh handphone nya di tas selempang
nya. ‘Biip” mobil BMW tersebut berbunyi, Dandelion dan Robert mulai berjalan
kearah mobil tersebut, Jasmine mengikuti kedua orang tersebut dan sesampainya
di depan mobil mereka berhenti lalu Chris mendekati mereka “Hari ini aku ingin
Jasmine yang duduk di sebelahku, kalian berdua bisa duduk dibelakang” seperti
anak yang menuruti induknya Dandelion dan Robert membuka pintu belakang, duduk,
dan menutup kembali pintu tersebut, Jasmine yang masih heran dengan apa yang
dilihatnya menyimpulkan bahwa mobil ini adalah milik Chris, namun seingatnya
Chris masih duduk di bangku kuliah dan belum bekerja, jadi bagaimana, “hei,
masuklah” suara Chris menghentikan lamunan Jasmine, tangan besar yang tidak
terlalu kekar namun dua anak kecil bisa bergelantungan di lengannya, membukakan
pintu mobil “masuklah, aku tau kau ingin kubukakan pintu” senyum penuh,
terpatri di wajah Chris.
Mereka sampai di dekat sebuah pemberhentian bus, satu
persatu dari keempat orang keluar dari mobil BMW hitam itu, berjalan menuju
pemberhentian bus yang saat ini sudah dikelilingi oleh banyak orang, anehnya
orang orang tersebut adalah bintang terkenal yang biasanya muncul di TV,
bagaimana bisa orang-orang terkenal ini berkumpul di samping jalan tanpa adanya
petugas, bodyguard, atau fans, padahal saat itu lalu lalang ramai, apakah ini
mimpiku? Pikiran Jasmine melalang buana, sampai suara seorang pria yang
sepertinya agak tua, mengembalikannya kembali ke alam sadar nya, benar saja,
pria didepannya sudah tumbuh uban di rambut maupun jenggotnya, tingginya 170cm,
hidungnya tidak terlalu mancung, kulitnya putih, alis tebal, mata hitam dengan
bulu mata lentik, walaupun sudah tua, pria didepannya masih terlihat segar dan
sehat dengan otot lengannya yang membentuk di lengan kaus nya seolah menjerit
untuk bebas, perutnya tidak buncit, dan ia memakai celana jeans yang longgar,
pria itu menyapa Jasmine dengan senyuman hangat dan mengalihkan pandangannya ke
Chris “terimakasih telah membawanya ke sini, apa dia akan tampil malam ini”
pria tua itu kembali menatap Jasmine “mungkin, kau tau walaupun tidak ada yang
mengungumkan tapi Jasmine selalu menjadi penari yang penonton
tunggu-tunggu" jawab Chris dengan senyum bangganya.
Jasmine yang tidak tau jika ada acara malam itu masih
mengingat-ingat ucapan Rosie yang mengatakan kalau ia dipilih malam ini, dan ia
pikir yang dimaksud adalah ia terpilih menjadi penari malam ini, kini senang
dan juga khawatir merayapi Jasmine. “Oh, ya aku sampai lupa memperkenalkan kalian
kepada wartawan lainnya” tangan pria itu melebar menunjukan para wartawan yang
memegang kamera dan lampu sorot. “perkenalkan ini adalah Jasmine jika kalian
tidak tau Jasmine adalah penari terhebat dan yang paling menghibur di generasi
ini, dan disebelahnya adalah Chris pria yang saat ini adalah...oh kalian pasti
sudah tau jika Chris sedang audisi untuk menjadi idol dan lolos semifinal, lalu
disebelahnya wanita cantik ini adalah...well, pegawai negara dan influencer,
dan disebelahnya Robert Ia adalah pemain game yang baru-baru ini sering
memenangkan pertandingan, dan seperti yang kalian lihat mereka adalah sahabat”
para aktor, aktris, dan wartawan menatap keempat orang itu dengan penuh rasa
ingin tahu.
Lampu kamera dan lampu sorot kini tertuju kepada
mereka. “baiklah sepertinya aku harus memulai kenapa akumengumpulkan kalian
semua” dan kini kamera dan pandangan kembali kepada pria tua ini. “jika kalian
memperhatikan ini bukanlah halte bus, melainkan bunker, bunker ini di desain
khusus agar melindungi orang yang ada di dalamnya selamat dari gempa bumi,
tsunami, maupun bencana alam lainnya, dengan model kertas, sebenarnya ini
bukanlah kertas melainkan baja” Bunker itu memiliki warna putih, seperti
tabung, dinding nya terlihat seperti potongan potongan kertas segitiga yang
bergerak seperti sisik ikan, dan seperti drum putih yang menggantung di halte.
Sementara sang pria tersebut menjelaskan apa saja keutamaan bunker itu, Jasmine
ingin tahu sebenarnya ada apa ini, ia mengalihkan perhatian nya ke sisi kanan
ya, Dandelion, raut wajahnya terlihat kesal, ia urungkan niatnya lalu berpaling
ke sisi kanan nya Chris masih tersenyum menghadap kamera dan artis perempuan
terkenal yang tesenyum padanya.
By: CK
Silahkan Cek juga cerita karangan saya yang lain, terimakasih🙏
https://www.wattpad.com/myworks/148256695-only-hope
https://www.wattpad.com/myworks/148256695/write/634474944
ps: jika ada salah kata atau penulisan, mohon dimaafkan.
Jika ada yang menyukai ceritanya silahkan komen, ya...atau jika ada hal-hal yang tak berkenan boleh dikomentar juga, terima kasih sudah membaca😊😄💓

.jpg)
Komentar
Posting Komentar